Dari Ponorogo untuk Masa Depan Berkelanjutan: Mahasiswa FTIK UIN Ponorogo Raih “The Best Idea” di ISCETAC 2026

Salatiga. Gagasan besar tentang masa depan tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar. Dari semangat belajar, keberanian menyampaikan ide, dan kepedulian terhadap persoalan dunia, mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo kembali menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menghadirkan perubahan.

Semangat tersebut dibawa mahasiswa FTIK UIN Ponorogo dalam International Sustainability Camp on Education, Technology, Art & Culture (ISCETAC) 2026 yang diselenggarakan di UIN Salatiga pada 1–3 September 2026. Dalam forum internasional yang mempertemukan peserta dari 13 negara tersebut, mahasiswa FTIK tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga membawa gagasan dan kontribusi.

Salah satu capaian membanggakan diraih oleh Alya Nur Aisyah, mahasiswa Program Studi Tadris Matematika FTIK UIN Ponorogo, yang berhasil meraih penghargaan “The Best Idea” dalam rangkaian kegiatan ISCETAC 2026. Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas gagasan dan capaian yang ditunjukkan Alya di tengah ruang kolaborasi internasional.

Prestasi tersebut menjadi lebih dari sekadar penghargaan individual. Capaian Alya mencerminkan keberanian mahasiswa FTIK UIN Ponorogo untuk hadir, berdialog, bertukar gagasan, dan mengambil peran dalam percakapan global tentang masa depan pendidikan dan keberlanjutan.

Mengusung tema “Global Youth Collaboration for Sustainable Futures through Education, Technology, Art, and Culture,” ISCETAC 2026 menjadi ruang perjumpaan lintas bangsa bagi generasi muda untuk memikirkan masa depan bersama. Melalui pendidikan, teknologi, seni, dan budaya, para peserta diajak untuk melihat persoalan keberlanjutan bukan sebagai isu yang jauh dari kehidupan, melainkan sebagai tanggung jawab bersama yang harus dijawab melalui aksi dan kolaborasi.

Selama kegiatan, mahasiswa mengikuti berbagai agenda, mulai dari International Cultural Performance & Sharing, International Conference, hingga Parallel Sessions dan Collaborative Forum. Dalam ruang-ruang tersebut, peserta dari berbagai latar belakang budaya dan negara saling berbagi pengalaman serta perspektif tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi kekuatan untuk menghadirkan perubahan sosial yang lebih baik.

Bagi mahasiswa kependidikan, pengalaman tersebut memiliki makna yang lebih mendalam. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan di dalam ruang kelas, tetapi juga sebagai jalan untuk membentuk manusia yang memiliki kepedulian, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

Semangat inilah yang sejalan dengan nilai kependidikan Islam yang terus dikembangkan FTIK UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Pendidikan diarahkan bukan hanya untuk melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga insan yang memiliki karakter, kepedulian sosial, wawasan global, serta komitmen untuk menghadirkan kemanfaatan.

Dalam ISCETAC 2026, peserta juga terlibat dalam Sustainability Action yang berkaitan dengan isu lingkungan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan International Youth Sustainability Declaration, sebagai bentuk komitmen generasi muda untuk mengambil bagian dalam mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Dari forum internasional tersebut, mahasiswa FTIK membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman dan penghargaan. Mereka membawa perspektif baru tentang dunia, jejaring kolaborasi lintas negara, serta kesadaran bahwa perubahan dapat dimulai dari gagasan dan langkah sederhana yang dilakukan secara bersama-sama.

Keikutsertaan mahasiswa FTIK UIN Ponorogo dalam ISCETAC 2026 sekaligus menjadi bagian dari upaya fakultas dalam membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk berkembang dan berkiprah di tingkat nasional maupun internasional. Pengalaman global tersebut diharapkan dapat kembali menjadi energi positif yang dibawa mahasiswa ke ruang-ruang pendidikan dan masyarakat.

Karena pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan hanya tentang sejauh mana seseorang mampu meraih prestasi, tetapi juga tentang sejauh mana pengetahuan, gagasan, dan pengalaman yang dimiliki dapat memberikan dampak bagi orang lain.

Prestasi Alya Nur Aisyah dan partisipasi mahasiswa FTIK dalam ISCETAC 2026 menjadi salah satu gambaran bahwa mahasiswa kependidikan Islam dari Ponorogo mampu berdiri sejajar dalam forum global, membawa identitas, gagasan, dan kepedulian terhadap masa depan.

Melalui pengalaman seperti ini, FTIK UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo terus meneguhkan langkahnya untuk melahirkan generasi pendidik yang tidak hanya siap mengajar, tetapi juga siap membaca perubahan zaman, membangun kolaborasi, dan menghadirkan solusi bagi pendidikan Indonesia.

Dari Ponorogo, gagasan itu terus tumbuh. Dari ruang-ruang pendidikan, dampak itu diharapkan terus meluas. Bergerak melampaui batas, bertumbuh bersama, dan menghadirkan pendidikan yang berdampak bagi Indonesia.

Berita Terkait