Dari Gagasan Menjadi Karya, FTIK UIN Ponorogo Tumbuhkan Tradisi Riset Mahasiswa

Ponorogo. Sebanyak 66 mahasiswa semester 5 dari 10 program studi di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mulai menapaki satu langkah penting: belajar mengubah gagasan menjadi karya ilmiah yang dapat dibaca, diuji, dan memberi manfaat lebih luas bagi dunia pendidikan.

Langkah itu diwujudkan melalui Workshop Karya Ilmiah Mahasiswa yang digelar di Minihall FTIK, Jumat (2/10/2026). Diikuti mahasiswa penerima maupun nonpenerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), kegiatan ini diarahkan pada satu target: mendorong lahirnya artikel ilmiah mahasiswa yang dapat diajukan ke jurnal nasional terakreditasi.

Bagi FTIK, target tersebut bukan sekadar tentang menghasilkan naskah untuk memenuhi tuntutan akademik. Lebih dari itu, publikasi ilmiah dipandang sebagai bagian dari proses membentuk calon pendidik yang mampu membaca persoalan pendidikan, mengolahnya menjadi pengetahuan, dan menghadirkan gagasan yang dapat memberi kontribusi bagi masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan komitmen FTIK untuk terus membangun ekosistem pendidikan Islam yang tidak hanya kuat dalam nilai, tetapi juga tangguh dalam tradisi keilmuan. FTIK FANTASTIK, FTIK LEBIH BAIK bukan sekadar slogan, melainkan semangat untuk menghadirkan pendidikan yang terus bertumbuh melalui budaya akademik, riset, inovasi, dan pengabdian.

Dekan FTIK UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Prof. Dr. Mukhibat, M.Ag., dalam sambutannya menegaskan bahwa kemampuan menulis karya ilmiah merupakan bagian penting dari pembentukan budaya akademik mahasiswa. Menurutnya, penelitian dan publikasi melatih mahasiswa untuk berpikir kritis, menyusun argumentasi berdasarkan bukti, sekaligus ikut mengambil bagian dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

“Mahasiswa tidak hanya perlu mampu memahami pengetahuan, tetapi juga perlu belajar menghasilkan dan menyebarluaskan pengetahuan,” menjadi semangat yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. H. Muhlisin, M.Ag., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sementara itu, kegiatan dimoderatori oleh Ika Rusdiana, M.A.

Di hadapan mahasiswa, Prof. Muhlisin mengajak peserta melihat karya ilmiah bukan sebagai sesuatu yang rumit dan jauh dari kehidupan mereka. Sebaliknya, sebuah artikel ilmiah dapat bermula dari pertanyaan sederhana yang muncul dari ruang kelas, pengalaman belajar, lingkungan pendidikan, maupun persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sana, mahasiswa diarahkan untuk menemukan ide dan menentukan topik penelitian yang relevan, merumuskan masalah, tujuan, serta manfaat penelitian. Proses kemudian dilanjutkan dengan penelusuran dan seleksi literatur secara sistematis untuk memahami penelitian terdahulu, menemukan state of the art, sekaligus mengidentifikasi research gap.

Mahasiswa juga diperkenalkan pada pentingnya menyusun kerangka berpikir, menentukan desain penelitian, memilih metode yang sesuai, serta menyajikan hasil dan pembahasan secara logis dan berbasis data. Ketepatan sitasi dan referensi menjadi bagian lain yang mendapat perhatian karena kualitas karya ilmiah tidak hanya ditentukan oleh gagasan, tetapi juga oleh kemampuan penulis menunjukkan sumber pengetahuan secara bertanggung jawab.

Lebih jauh, workshop tersebut menempatkan etika akademik sebagai fondasi. Plagiarisme, manipulasi data, maupun ketidakjujuran dalam proses penelitian bukan sekadar persoalan teknis, tetapi bertentangan dengan nilai integritas yang harus melekat pada seorang akademisi sekaligus calon pendidik.

Bagi mahasiswa FTIK, pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk memasuki dunia pendidikan yang terus berubah. Seorang guru dan tenaga kependidikan pada masa depan tidak cukup hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan membaca persoalan, mencari bukti, melakukan refleksi, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, perjalanan tidak berhenti ketika workshop berakhir. Mahasiswa didorong untuk melanjutkan proses dengan menyelesaikan naskah, melakukan penyuntingan, memastikan kesesuaian dengan standar jurnal, hingga mengajukannya ke jurnal nasional terakreditasi.

Dari 66 mahasiswa yang hadir, mungkin lahir puluhan gagasan. Dari gagasan-gagasan itu, diharapkan tumbuh penelitian. Dari penelitian, lahir artikel. Dan dari artikel yang dibaca serta dimanfaatkan, terbuka peluang lahirnya pengetahuan baru untuk menjawab persoalan pendidikan.

Di titik inilah FTIK melihat publikasi bukan sekadar angka, melainkan jalan untuk memperluas kebermanfaatan ilmu. Mahasiswa yang hari ini belajar menulis artikel ilmiah adalah calon pendidik yang kelak akan kembali ke ruang-ruang kelas, madrasah, sekolah, dan masyarakat dengan membawa tradisi berpikir kritis dan semangat memperbaiki pendidikan.

Melalui penguatan budaya riset dan publikasi tersebut, FTIK UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo terus meneguhkan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang memadukan nilai, ilmu, riset, dan kontribusi sosial. Sebuah ikhtiar untuk terus bergerak menjadi FTIK FANTASTIK, FTIK LEBIH BAIK—hari ini menyiapkan mahasiswa, esok menghadirkan pendidik, dan pada waktunya ikut memberi warna bagi masa depan pendidikan Indonesia.

Berita Terkait