Ponorogo. Dalam upaya memperkuat layanan pendidikan yang ramah terhadap keanekaragaman, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menyelenggarakan rangkaian Workshop Inclusive Literacy yang berfokus pada pengembangan cerita anak dengan representasi karakter neurodiverse. Kegiatan yang berlangsung secara virtual melalui Zoom ini dijadwalkan berjalan selama empat hari, dengan menyasar para pendidik dan pengajar sekolah dasar.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Sofwan Hadi, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan pentingnya menghadirkan tokoh-tokoh neurodiverse dalam materi pengajaran. Hal ini dinilai krusial untuk memperkaya pengalaman belajar siswa sekaligus membangun empati sejak dini.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Mukhlison, turut menyambut positif pelaksanaan kegiatan ini. Ia berharap pelatihan ini dapat dibekali para guru dasar untuk mengembangkan media pembelajaran dan buku cerita anak yang inklusif.
Menghadirkan Pakar Psikologi Pendidikan
Dipandu oleh Rohmah Rosidah sebagai moderator, sesi utama hari pertama menghadirkan pakar psikologi pendidikan sekaligus dosen Prodi PGSD Universitas Nusantara PGRI Kediri, Novi Nitya Santi, S.Pd., M.C. Dalam pemaparannya, Novi membedah konsep dasar literasi inklusif serta berbagai kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Novi menjelaskan bahwa meskipun fasilitas dan pengetahuan tentang pendidikan inklusif di lapangan masih memiliki keterbatasan, prinsip utama yang harus dipegang adalah kesetaraan hak belajar bagi semua anak di sekolah umum tanpa terkecuali. Beliau merinci berbagai kondisi neurodiverse seperti dyslexia, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), autisme, hingga anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa (gifted).
“Disleksia, misalnya, disebabkan oleh gangguan neurologis yang memengaruhi akurasi membaca dan kemampuan membedakan huruf. Kondisi ini membutuhkan latihan berkelanjutan serta pendekatan belajar individual,” terang Novi dalam sesi pemaparan.
Selain itu, beliau juga menekankan pemanfaatan teknologi bantu (assistive technology), seperti aplikasi berbasis Google yang dapat membantu siswa berkebutuhan khusus visual maupun pendengaran dalam menyerap materi pelajaran secara optimal.
Antusiasme Peserta dan Sesi Diskusi
Sesi dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang disambut antusias oleh para peserta, khususnya para guru SD. Berbagai pertanyaan seputar strategi penanganan siswa yang sulit fokus di kelas hingga pengenalan kecerdasan ganda (multiple intelligences) dibahas secara rinci. Novi turut merekomendasikan penggunaan media permainan edukatif seperti scrabble dan puzzle untuk melatih konsentrasi anak.
Berlanjut ke Sesi Praktik Teknis
Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup dengan pelaksanaan pre-test dan dokumentasi bersama. Sebagai kelanjutan dari sesi pemahaman teori ini, para peserta dipersiapkan untuk mengikuti sesi kedua yang akan difokuskan pada aspek praktis teknis, yaitu pembuatan buku cerita anak bernuansa inklusif.


