AI Boleh Semakin Pintar, Pendidik Harus Semakin Humanis: Pesan Studium Generale FTIK

Ponorogo. Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat, dunia pendidikan menghadapi tantangan baru. Bukan hanya tentang bagaimana menggunakan teknologi, tetapi tentang bagaimana menyiapkan manusia yang tetap mampu berpikir kritis, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Pesan tersebut mengemuka dalam Studium Generale Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo bertajuk “Masa Depan Pendidikan Anak di Era Digital”, yang digelar di Graha Watoe Dhakon, Kampus 1, Kamis (8/10/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri sebagai calon pendidik yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan pendidikan Islam.

Membekali Mahasiswa untuk Masa Depan

Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FTIK UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Prof. Dr. Mukhibat, M.Ag.

Prof. Mukhibat menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar FTIK untuk membekali mahasiswa menghadapi masa depan. Menurutnya, mahasiswa mungkin tidak selalu merasa khawatir terhadap masa depannya, tetapi para orang tua justru menyimpan harapan dan kekhawatiran besar terhadap masa depan anak-anak mereka.

“Acara ini semata-mata untuk membekali masa depan mahasiswa. Mungkin para mahasiswa tidak pernah khawatir dengan masa depannya, justru para orang tua yang memiliki kekhawatiran akan masa depan anak, khususnya para mahasiswa,” ungkapnya.

Karena itu, ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini dan mengajak seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan baik.

Bukan Sekadar Gadget, tetapi Masa Depan Pendidikan

Materi utama disampaikan oleh Prof. Dr. H. Suyadi, M.A., Guru Besar Psikologi Pendidikan sekaligus Ketua Program Studi S2 PIAUD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Prof. Suyadi mengingatkan bahwa pembahasan mengenai era digital bukan semata-mata tentang gadget, tetapi tentang masa depan manusia.

“Ini bukan kuliah tentang gadget, tapi tentang masa depan kita.”

Menurutnya, mahasiswa hidup di tengah kondisi ketika informasi tersedia sangat melimpah. Karena itu, kemampuan mencari informasi harus diikuti dengan kemampuan memilah, memverifikasi, berpikir kritis, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.

Perkembangan AI juga menghadirkan perubahan besar dalam pembelajaran. Teknologi dapat membantu menghasilkan tulisan, gambar, rangkuman, hingga berbagai gagasan. Namun, AI tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir dan berefleksi.

Mahasiswa sebagai Pembuat Makna dan Karya

Dalam pemaparannya, Prof. Suyadi menyoroti sejumlah perubahan dalam pendidikan. Guru dan dosen tidak lagi hanya menjadi pusat jawaban, tetapi berperan sebagai perancang pengalaman belajar. Sementara mahasiswa dituntut untuk tidak sekadar menjadi penerima informasi, melainkan pembuat makna dan karya.

Penilaian pun tidak cukup hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses, alasan, dan refleksi.

AI dapat menjadi co-pilot dalam pembelajaran, tetapi manusia tetap harus menjadi pihak yang mengendalikan, memeriksa, dan bertanggung jawab atas penggunaannya.

Pesan “Move or Being Moved” turut menjadi refleksi bahwa pendidik harus terus bergerak dan beradaptasi. Perubahan teknologi tidak dapat dihindari, tetapi pendidikan harus memastikan bahwa perubahan tersebut tetap berpijak pada nilai, etika, karakter, dan kemanusiaan.

FTIK FANTASTIK, FTIK Lebih Baik

Bagi FTIK, tantangan era digital bukan alasan untuk menjauh dari nilai-nilai pendidikan Islam. Sebaliknya, perkembangan teknologi menjadi momentum untuk melahirkan pendidik yang adaptif, kompeten, berkarakter, dan humanis.

Mahasiswa FTIK hari ini adalah calon pendidik yang kelak akan hadir di sekolah, madrasah, pesantren, keluarga, dan masyarakat. Karena itu, apa yang dipersiapkan di ruang-ruang akademik FTIK diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi pendidikan Indonesia.

Semangat tersebut sejalan dengan tagline “FTIK FANTASTIK, FTIK Lebih Baik” sebuah komitmen untuk terus bergerak, berinovasi, dan menghadirkan pendidikan Islam yang relevan dengan kebutuhan zaman.

AI boleh semakin pintar, tetapi pendidik harus semakin humanis. Dari FTIK yang lebih baik, diharapkan lahir pendidik yang mampu membaca zaman, menjaga nilai, dan membawa perubahan bagi masa depan pendidikan Indonesia.

Berita Terkait