FTIK UIN Ponorogo Hadirkan Islamic Ecotheology: Menanam Kepedulian, Menumbuhkan Pendidikan Berkelanjutan

Ponorogo. Sebuah pohon ditanam, tetapi yang ingin ditumbuhkan lebih dari sekadar penghijauan. Itulah pesan yang hadir dalam kegiatan International Inbound Student Mobility yang diselenggarakan International Office (IO) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Rabu (9/9/2026). Melalui Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), peserta dari berbagai negara diajak mengenal Islamic Ecotheology sebagai perspektif pendidikan Islam yang menghubungkan nilai keislaman, kepedulian lingkungan, dan aksi nyata.

Kegiatan diawali dengan penanaman pohon bersama sebelum peserta mengikuti sesi materi yang disampaikan oleh Ulinnuha Nur Faizah, M.Sc. Aktivitas sederhana tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup berhenti pada pengetahuan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan dan tindakan.

Dalam perspektif Islamic Ecotheology, menjaga alam bukan semata-mata persoalan ekologis, melainkan juga bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia. Konsep manusia sebagai khalifah fil ardh dan prinsip mizan (keseimbangan) menjadi landasan bahwa relasi manusia dengan alam harus dibangun dengan penuh tanggung jawab.

Peserta kemudian diajak melihat persoalan lingkungan dari sudut pandang yang lebih luas. Dalam sesi diskusi, mahasiswa dari berbagai negara berbagi pengalaman tentang cara masyarakat di negara masing-masing menjaga lingkungan dan membangun pola hidup berkelanjutan.

Pertukaran pengalaman tersebut menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berlangsung melalui materi di ruang kelas. Peserta belajar dari alam, dari pengalaman sesama, sekaligus dari keberagaman budaya. Di sinilah pendidikan menemukan maknanya: pengetahuan menjadi lebih hidup ketika mampu membentuk kesadaran dan mendorong seseorang untuk bertindak.

Bagi FTIK UIN Ponorogo, keterlibatan dalam International Inbound Student Mobility menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan wajah pendidikan Islam yang terbuka, kontekstual, dan berdampak. Nilai-nilai Islam tidak hanya diajarkan sebagai konsep, tetapi dihadirkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk tantangan lingkungan.

Lebih jauh, pengalaman semacam ini menjadi bagian dari visi FTIK untuk menyiapkan calon pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan pedagogik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan. Dari ruang pendidikan tinggi, nilai tersebut diharapkan terus dibawa ke sekolah, madrasah, keluarga, dan masyarakat sehingga melahirkan generasi Indonesia yang berilmu sekaligus peduli.

Menanam pohon hari ini adalah langkah kecil. Menanam kesadaran pada generasi pendidik adalah investasi yang jauh lebih panjang. Dari langkah-langkah sederhana itulah FTIK terus bergerak menghadirkan pendidikan Islam yang relevan dan memberi dampak.

Semangat tersebut menjadi bagian dari perjalanan FTIK FANTASTIK—fakultas yang terus bertumbuh melalui kolaborasi, inovasi, dan kontribusi—menuju FTIK LEBIH BAIK, pendidikan yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi turut menumbuhkan insan pendidik yang mampu membawa perubahan bagi pendidikan Indonesia.

Berita Terkait