FTIK UIN Ponorogo Tebarkan Pendidikan Berbasis Cinta, Guru Nganjuk Didorong Wujudkan Madrasah Ramah dan Moderat

Nganjuk. Pendidikan yang baik tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia tumbuh dari hal sederhana: guru yang mau mendengarkan, ruang kelas yang membuat peserta didik merasa aman, serta pembelajaran yang memperlakukan setiap anak dengan penghargaan dan cinta.

Semangat tersebut menjadi pijakan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dalam menguatkan kompetensi guru madrasah melalui NGOPI #11 (Ngobrol Pendidikan Islam) bertajuk “Kurikulum Berbasis Cinta dan Penguatan Kompetensi Guru Menuju Madrasah Ramah dan Moderat” di Hotel Front One Ratu Nganjuk, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan ini mempertemukan guru-guru madrasah di Kabupaten Nganjuk dalam ruang berbagi dan berdiskusi tentang bagaimana pendidikan dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih manusiawi. Hadir sebagai pembicara Dr. Intan Nuyulis Naeni Puspitasari, M.Pd.I., dari UIN Syekh Wasil Kediri, sedangkan kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FTIK UIN Ponorogo, Prof. Dr. Mukhibat, M.Ag.

Dalam forum tersebut, penguatan kompetensi guru ditempatkan tidak hanya sebagai upaya meningkatkan kemampuan akademik dan pedagogis, tetapi juga sebagai bagian dari ikhtiar membangun karakter peserta didik.

Melalui pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), guru diajak menghadirkan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai manusia yang perlu dihargai, didengarkan, dan didampingi. Nilai cinta diterjemahkan dalam relasi positif antara guru dan peserta didik, penghargaan terhadap keberagaman, sikap toleran, serta pembiasaan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan madrasah.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena madrasah tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan. Madrasah juga menjadi ruang tempat anak belajar mengenal dirinya, memahami orang lain, dan hidup bersama dalam keberagaman.

Karena itu, konsep madrasah ramah dan moderat diharapkan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi hadir dalam praktik sehari-hari. Mulai dari cara guru berkomunikasi, membangun suasana kelas, menyikapi perbedaan, hingga memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk berkembang sesuai potensinya.

Bagi FTIK UIN Ponorogo, penguatan guru merupakan salah satu pintu penting untuk menghadirkan perubahan pendidikan. Ketika guru terus belajar dan berkembang, dampaknya tidak berhenti pada diri guru, tetapi bergerak menuju kelas, madrasah, keluarga, hingga masyarakat.

NGOPI #11 menjadi bagian dari komitmen FTIK UIN Ponorogo untuk memperluas ruang kolaborasi dan berbagi praktik pendidikan Islam bersama para pendidik. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi tempat lahirnya gagasan akademik, tetapi juga perlu memastikan gagasan tersebut dapat bertemu dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Melalui rangkaian NGOPI, FTIK berupaya membangun jembatan antara dunia akademik dan praktik pendidikan. Guru menjadi mitra penting dalam proses tersebut karena merekalah yang setiap hari berhadapan langsung dengan dinamika peserta didik dan perubahan zaman.

Dari ruang-ruang dialog seperti NGOPI, FTIK ingin menumbuhkan ekosistem pendidikan yang saling belajar dan saling menguatkan. Gagasan yang lahir di kampus dapat dibawa ke madrasah, sementara pengalaman guru di lapangan menjadi bahan refleksi untuk terus mengembangkan pendidikan yang relevan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari ikhtiar FTIK untuk memberikan kontribusi yang lebih luas bagi pendidikan Islam dan pendidikan Indonesia. Semangat FTIK FANTASTIK, FTIK LEBIH BAIK bukan sekadar identitas, tetapi energi untuk terus bergerak menghadirkan inovasi, memperkuat kompetensi pendidik, dan memperluas kebermanfaatan.

Sebab, perubahan pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari seorang guru yang memilih untuk mengajar dengan lebih sabar, memahami dengan lebih dalam, dan mendidik dengan lebih banyak cinta.

Dari guru yang bertumbuh, lahir pembelajaran yang lebih bermakna. Dari pembelajaran yang bermakna, tumbuh madrasah yang ramah dan moderat. Dan dari madrasah yang terus bertumbuh, lahir generasi yang diharapkan mampu memberi kontribusi bagi masa depan Indonesia.

Berita Terkait