Jombang. Di sebuah madrasah, kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana: mengajarkan peserta didik membuang sampah pada tempatnya, merawat tanaman, menghemat air, hingga memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Dari kebiasaan kecil itulah kesadaran ekologis dapat tumbuh menjadi karakter.
Semangat tersebut dibawa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo melalui NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) #9 bertajuk “Penguatan Kompetensi Guru Berbasis Ekoteologi Menuju Madrasah Ramah Lingkungan” di Hotel Fatma Jombang, Rabu (23/9/2026).
Sebanyak 200 guru madrasah di Kabupaten Jombang mengikuti kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB. Forum tersebut menghadirkan Prof. Dr. H. Nurul Azizah, S.Ag., M.Pd.I., M.A., dari Universitas Ibrahimy Situbondo sebagai narasumber dan diawali dengan sambutan Dekan FTIK UIN Ponorogo, Prof. Dr. Mukhibat, M.Ag.
Di hadapan para guru, ekoteologi diperkenalkan bukan semata sebagai pembahasan tentang lingkungan, tetapi sebagai perspektif yang mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan tanggung jawab manusia dalam merawat alam.
Pendekatan tersebut mengajak guru melihat bahwa pendidikan lingkungan tidak harus berdiri sebagai materi yang terpisah dari kehidupan keagamaan. Kepedulian terhadap air, tanah, tumbuhan, hewan, dan kebersihan lingkungan dapat ditanamkan sebagai bagian dari pembentukan karakter sekaligus pengamalan nilai-nilai keislaman.
Forum pun berlangsung dalam suasana interaktif. Para guru tidak hanya menyimak materi, tetapi turut berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan dapat diterapkan dalam pembelajaran serta budaya madrasah.
Bagi peserta, pembahasan tersebut membuka ruang refleksi bahwa madrasah ramah lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan program besar. Perubahan dapat tumbuh dari kebiasaan sehari-hari yang dilakukan secara konsisten oleh guru dan peserta didik.
Bagi FTIK UIN Ponorogo, penguatan kompetensi guru merupakan salah satu jalan untuk memperluas dampak pendidikan. Ketika guru mendapatkan wawasan baru, gagasan tersebut memiliki peluang untuk bergerak lebih jauh—masuk ke ruang kelas, menjadi bagian dari budaya madrasah, dan kemudian membentuk kebiasaan peserta didik.
Inilah yang ingin dibangun FTIK melalui NGOPI. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat untuk mengembangkan teori dan pengetahuan, tetapi juga ruang yang membuka dialog dengan para pendidik yang bersentuhan langsung dengan realitas pendidikan.
Ekoteologi menjadi salah satu contoh bagaimana pendidikan Islam dapat merespons persoalan kehidupan secara relevan. Nilai keagamaan tidak berhenti pada pemahaman tekstual, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kepedulian nyata terhadap lingkungan dan kehidupan bersama.
Dari Jombang, gagasan tersebut diharapkan terus bergerak. Guru membawa pengetahuan ke madrasah, madrasah menumbuhkan kebiasaan baik, dan peserta didik membawa karakter peduli lingkungan ke tengah keluarga dan masyarakat.
Dengan cara inilah FTIK UIN Ponorogo terus memperluas ruang kontribusinya bagi pendidikan Islam. Setiap forum penguatan guru menjadi bagian dari perjalanan untuk menghadirkan pendidikan yang lebih relevan, humanis, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Semangat tersebut menjadi bagian dari spirit “FTIK FANTASTIK, FTIK LEBIH BAIK”—terus belajar, terus berbagi, dan terus bergerak agar pendidikan Islam tidak hanya menghasilkan manusia yang berilmu, tetapi juga generasi yang memiliki kepedulian terhadap sesama dan alam.
Sebab, ketika seorang guru mengajarkan anak untuk mencintai alam, sesungguhnya ia sedang menanamkan nilai yang akan dibawa anak itu jauh melampaui ruang kelas.
Dari guru yang belajar merawat bumi, tumbuh generasi yang memahami bahwa menjaga alam adalah bagian dari menjaga kehidupan.






