Mojokerto. Di balik setiap ruang kelas, ada anak-anak yang sedang belajar menemukan dirinya. Ada yang tumbuh dengan percaya diri, tetapi ada pula yang diam-diam kehilangan keberanian karena merasa tidak diterima. Perundungan bukan sekadar persoalan antara anak dengan anak. Dampaknya dapat menyentuh prestasi akademik, kesehatan psikologis, hubungan sosial, hingga rasa berharga dan kepercayaan diri seorang anak.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Ponorogo kembali menghadirkan #Ngopi: Ngobrol Pendidikan Series 3 di Mojokerto, Sabtu (29/8/2026). Bertempat di Hotel De Resort Mojokerto, kegiatan ini menjadi ruang bersama bagi insan pendidikan untuk membangun kesadaran bahwa menciptakan madrasah yang aman dan ramah membutuhkan kerja bersama, bukan kerja satu pihak.
Mengangkat tema “Ekosistem Madrasah Inklusif dan Antiperundungan: Sinergi Kepala Madrasah, Guru, dan Wali Murid di Kota/Kabupaten Mojokerto dalam Mewujudkan Madrasah yang Aman, Ramah, Setara, dan Berkeadilan”, #Ngopi Series 3 menghadirkan Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., Guru Besar UIN Saizu Purwokerto, sebagai narasumber.
Kegiatan dibuka oleh Dekan FTIK UIN Ponorogo, Prof. Dr. Mukhibat, M.Ag. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa madrasah inklusif dan bebas perundungan hanya dapat diwujudkan melalui sinergi seluruh agen pendidikan.
“Perlu adanya sinergi dari agen pendidikan, seluruh stakeholder di madrasah, tentunya bersama wali murid untuk menciptakan madrasah inklusif yang ramah dan antiperundungan.”
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa pendidikan tidak berhenti pada proses transfer pengetahuan di dalam kelas. Pendidikan juga tentang bagaimana memastikan setiap anak merasa aman, dihargai, diterima, dan memiliki ruang untuk bertumbuh.
Dalam paparannya, Prof. Fauzi mengajak peserta melihat perundungan secara lebih utuh. Perundungan tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat secara fisik. Sering kali, dampaknya justru hadir dalam bentuk perubahan perilaku dan perasaan yang berlangsung perlahan. Pada aspek akademik, anak yang mengalami perundungan dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, enggan datang ke sekolah, hingga mengalami penurunan prestasi. Pada aspek psikologis, perundungan dapat memunculkan rasa malu, takut, sedih, kehilangan kepercayaan diri, bahkan membuat anak merasa tidak memiliki tempat yang aman.
Dampaknya juga merambah pada aspek sosial. Anak dapat menarik diri, mengalami kesulitan berteman, dan merasa tidak diterima oleh lingkungan sekitarnya. Lebih jauh, terdapat dimensi spiritual dan moral yang tidak boleh diabaikan. Perasaan tidak berharga serta hilangnya rasa aman dan kepercayaan dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri maupun lingkungan di sekitarnya. Karena itu, menurut kerangka yang dibangun dalam seminar, pertanyaan pentingnya bukan hanya “Siapa yang melakukan perundungan?”, tetapi juga “Mengapa ekosistem pendidikan belum cukup mampu mencegah dan menangani perundungan?”
Seminar #Ngopi Series 3 menempatkan persoalan perundungan dalam perspektif ekosistem. Ada empat lapisan yang perlu bergerak bersama: individu, relasi, madrasah, dan lingkungan.
Pada tingkat individu, anak perlu dibekali keterampilan emosi, empati, dan kontrol diri. Pada tingkat relasi, hubungan antara teman sebaya, guru, dan wali murid menjadi bagian penting dalam membangun budaya saling menghargai. Sementara itu, pada tingkat madrasah diperlukan aturan, kepemimpinan, budaya positif, serta supervisi yang mampu memastikan lingkungan belajar benar-benar aman. Di luar madrasah, komunitas, media digital, dan norma sosial juga ikut membentuk perilaku anak.
Kerangka ini sekaligus menunjukkan bahwa bullying tidak cukup ditangani ketika kasus sudah terjadi. Pencegahan harus dibangun menjadi budaya. Karena itu, seminar memberikan penekanan pada peran masing-masing pihak. Bagi kepala madrasah, penguatan diarahkan pada penyusunan dan penguatan kebijakan, SOP, serta tim pencegahan dan penanganan kekerasan sesuai regulasi.
Bagi guru, kemampuan mengenali tanda-tanda awal perundungan, merespons secara tepat, serta menciptakan kelas yang aman dan inklusif menjadi bagian penting dari tanggung jawab pendidikan. Sementara bagi wali murid, pemahaman tentang tanda-tanda anak menjadi korban maupun pelaku, mekanisme pelaporan, serta keterlibatan aktif bersama madrasah menjadi kunci agar persoalan tidak terlambat ditangani.
#Ngopi: Ngobrol Pendidikan bukan sekadar forum untuk berbicara tentang pendidikan. Series ketiga yang sebelumnya telah diselenggarakan di Madiun ini menjadi bagian dari ikhtiar FTIK untuk membawa percakapan pendidikan lebih dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Bagi FTIK, pendidikan Islam tidak cukup hanya melahirkan peserta didik yang cerdas secara akademik. Pendidikan harus menghadirkan ruang tumbuh yang beradab, berkeadilan, menghargai perbedaan, dan menjunjung nilai kemanusiaan.
Madrasah yang ramah adalah madrasah yang mampu melihat anak bukan sekadar sebagai angka dalam daftar nilai, tetapi sebagai manusia yang memiliki perasaan, potensi, kebutuhan, dan hak untuk mendapatkan rasa aman.
Dari Mojokerto, pesan itu kembali ditegaskan: membangun pendidikan yang lebih baik membutuhkan keberanian untuk mendengar, kepedulian untuk memahami, dan kesediaan untuk bergerak bersama. Melalui #Ngopi Series 3, FTIK UIN Ponorogo terus meneguhkan perannya sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi hadir untuk menjawab persoalan pendidikan di tengah masyarakat.
Sebab, ketika kepala madrasah, guru, wali murid, dan seluruh pemangku kepentingan berjalan dalam satu arah, madrasah bukan hanya menjadi tempat belajar. Madrasah dapat menjadi rumah yang aman bagi setiap anak untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi. FTIK FANTASTIK. FTIK LEBIH BAIK.
Bersama FTIK, pendidikan Islam bergerak lebih humanis, inklusif, dan berdampak bagi Indonesia.




