Ponorogo. Magang mahasiswa tidak berhenti pada aktivitas belajar di ruang kelas atau praktik mengajar di sekolah. Lebih dari itu, magang menjadi ruang perjumpaan antara kampus, guru, sekolah, dan masyarakat untuk bersama-sama menyiapkan generasi pendidik yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian, dan kemampuan menjawab kebutuhan pendidikan.
Semangat itulah yang menjadi dasar Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dalam melaksanakan koordinasi kegiatan magang bersama sekolah dan madrasah mitra melalui tema “Sinergi Mitra Penguatan Mutu Magang Mahasiswa.”
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara FTIK dan sekolah/madrasah mitra. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ponorogo, Dr. Edi Irawan, M.Pd., Wakil Rektor II, Dr. Wirawan Fadly, M.Pd., serta Kepala Biro AUAK UIN Ponorogo, Dr. H. Samsi, M.M., Dekan FTIK UIN Ponorogo Prof. Dr. Mukhibat, M.Ag, Wakil Dekan I Prof. Dr. Muhammad Thoyib, M.Pd, Wakil Dekan II Mukhlison Efendy, M.Ag, Wakil Dekan III Dr. Esty Yuli Widayanti, M.Pd.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Dr. Edi Irawan, M.Pd. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa perguruan tinggi tidak dapat berjalan sendiri dalam membangun mutu pendidikan. Kampus dan sekolah harus hadir sebagai mitra yang saling menguatkan, karena kualitas pendidikan lahir dari ekosistem yang dibangun bersama.
Menurutnya, mahasiswa yang ditempatkan di sekolah bukan sekadar peserta praktik yang datang untuk memenuhi kewajiban akademik. Mereka merupakan calon pendidik yang sedang belajar memahami realitas pendidikan secara langsung. Karena itu, pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama magang perlu dibangun melalui komunikasi dan kerja sama yang baik antara kampus dan sekolah mitra.
Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan magang, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang berkelanjutan. Sekolah dapat menjadi ruang belajar bagi mahasiswa, sementara perguruan tinggi dapat menghadirkan sumber daya akademik, riset, dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi sekolah.
“Melalui sinergi ini, kita berharap hubungan antara universitas dan sekolah tidak hanya berlangsung ketika mahasiswa melaksanakan magang, tetapi dapat menjadi jembatan untuk membangun kerja sama yang lebih luas dan berkesinambungan,” demikian pokok pesan yang disampaikan dalam pembukaan kegiatan.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menjadi ruang dialog antara FTIK dan sekolah/madrasah mitra.
Dr. Esti menuturkan bahwa forum tersebut diharapkan mampu membangun komunikasi dua arah. Sekolah tidak hanya menjadi penerima program dari FTIK, tetapi juga memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan, pengalaman, masukan, dan gagasan yang dapat menjadi dasar pengembangan program magang.
Semangat tersebut menjadi penting karena setiap sekolah memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Dengan komunikasi yang lebih terbuka, pelaksanaan magang mahasiswa diharapkan semakin relevan dengan kondisi nyata di lapangan.
Dekan FTIK juga menegaskan keterbukaan fakultas untuk memperluas bentuk kerja sama dengan sekolah dan madrasah mitra. Kolaborasi tidak hanya terbatas pada kegiatan magang, tetapi dapat dikembangkan dalam berbagai bidang, salah satunya melalui pendampingan Olimpiade Sains Nasional (OSN), pemanfaatan laboratorium terpadu, serta berbagai kegiatan akademik lainnya.
Kolaborasi dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang selama ini telah berjalan bersama sejumlah program studi juga menjadi salah satu modal penting untuk memperluas jejaring akademik FTIK dengan sekolah dan madrasah.
Semangat tersebut sejalan dengan gagasan bahwa kampus memiliki setidaknya tiga pintu kebermanfaatan: industri, masyarakat, dan kemaslahatan. Artinya, aktivitas akademik di perguruan tinggi harus mampu membuka diri terhadap kebutuhan nyata di luar kampus dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Pemanfaatan laboratorium terpadu menjadi salah satu contoh ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan. Fasilitas yang dimiliki kampus tidak hanya menjadi tempat belajar mahasiswa, tetapi juga berpotensi menjadi ruang bersama untuk penguatan kompetensi guru, kegiatan siswa, penelitian, maupun program pengembangan pembelajaran.
Penguatan mutu magang semakin jelas melalui materi yang disampaikan Prof. Dr. Muhammad Thoyib, M.Pd. Ia memaparkan arah pengembangan program magang FTIK, termasuk rencana implementasi Magang Transformatif pada tahun 2027.
Tahun 2026 menjadi fase akhir pelaksanaan Magang 2 yang merupakan bagian dari implementasi kurikulum tahun 2022. Dalam pelaksanaannya, Magang 2 memiliki bobot 2 SKS dan menjadi bagian penting dalam proses pembentukan pengalaman profesional mahasiswa di sekolah maupun madrasah.
Mulai tahun 2027, FTIK UIN Ponorogo akan merealisasikan Magang Transformatif, sebuah model yang dirancang untuk membawa pengalaman mahasiswa lebih dekat dengan kebutuhan nyata sekolah sekaligus menghubungkannya dengan pengembangan keilmuan.
Dalam skema ini, mahasiswa tidak hanya melaksanakan magang, tetapi juga diarahkan untuk melakukan riset yang dapat menjadi bagian dari tugas akhir atau skripsi. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat mahasiswa belajar mengajar, tetapi juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi persoalan, melakukan kajian, dan menawarkan solusi berbasis penelitian.
Magang Transformatif direncanakan berlangsung selama 2,5 bulan. Dua bulan sebelum pelaksanaan, FTIK akan melakukan survei untuk memetakan kebutuhan sekolah. Langkah ini menjadi bagian penting agar kehadiran mahasiswa benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah mitra.
Mahasiswa juga dipersiapkan melalui pembelajaran yang lebih terstruktur. Untuk mahasiswa bidang pendidikan, bekal micro teaching telah diberikan pada semester 5, sedangkan mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) mendapatkan pembekalan melalui micro leading.
Dalam Magang Transformatif, praktik micro teaching juga dirancang untuk dilakukan minimal delapan kali. Intensitas tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri, kemampuan mengelola pembelajaran, serta kesiapan menghadapi dinamika kelas sebelum benar-benar terjun ke sekolah.
Menyatukan Kampus, Sekolah, dan Masyarakat
Koordinasi bersama sekolah dan madrasah mitra ini pada akhirnya bukan sekadar agenda administratif menjelang pelaksanaan magang. Lebih jauh, forum tersebut menjadi bagian dari ikhtiar FTIK untuk membangun ekosistem pendidikan yang saling belajar dan saling memberi manfaat.
Sekolah memiliki pengalaman nyata dalam mendampingi peserta didik. Kampus memiliki kekuatan pada pengembangan keilmuan, penelitian, dan inovasi. Ketika keduanya dipertemukan dalam hubungan yang setara, lahirlah ruang kolaborasi yang dapat memberikan dampak lebih luas.
Dari ruang kelas tempat mahasiswa belajar, hingga ruang-ruang sekolah tempat mereka mengabdi, FTIK ingin memastikan bahwa setiap proses pendidikan memiliki jejak kebermanfaatan.
Karena itu, Magang Transformatif bukan hanya tentang mengirim mahasiswa ke sekolah, tetapi tentang menghadirkan mahasiswa bersama sekolah untuk belajar, meneliti, berinovasi, dan memberi solusi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari visi FTIK UIN Ponorogo untuk terus memperkuat pendidikan Islam yang adaptif, kolaboratif, dan berdampak. Calon guru dan tenaga kependidikan yang dilahirkan FTIK diharapkan tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi bagian dari perubahan pendidikan Indonesia.
Melalui semangat “FTIK FANTASTIK, FTIK LEBIH BAIK,” penguatan kemitraan ini menjadi langkah kecil yang diharapkan melahirkan dampak besar: dari mahasiswa yang semakin siap, sekolah yang semakin kuat, hingga pendidikan Indonesia yang semakin berkualitas dan berkarakter.









