Jombang. Seorang guru tidak hanya hadir untuk menyampaikan pelajaran. Di ruang kelas, ia juga menjadi sosok yang mendengarkan, mendampingi, memberi teladan, dan membantu peserta didik menemukan kepercayaan dirinya. Dari relasi yang dibangun dengan penuh penghargaan itulah pendidikan yang ramah dan manusiawi dapat tumbuh.
Gagasan tersebut menjadi perhatian Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dalam NGOPI #10 (Ngobrol Pendidikan Islam) bertajuk “Seminar Kurikulum Berbasis Cinta dan Penguatan Kompetensi Guru Menuju Madrasah Ramah dan Moderat” di Hotel Fatma Jombang, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–16.00 WIB ini mempertemukan guru-guru madrasah di Kabupaten Jombang dalam ruang berbagi gagasan tentang bagaimana menghadirkan pendidikan yang tidak hanya kuat dalam pengetahuan, tetapi juga hangat dalam relasi dan kokoh dalam nilai. Seminar menghadirkan Prof. Dr. H. Nurul Azizah, S.Ag., M.Pd.I., M.A., dari Universitas Ibrahimy Situbondo sebagai pembicara dan diawali dengan sambutan Dekan FTIK UIN Ponorogo, Prof. Dr. Mukhibat, M.Ag.
Dalam forum tersebut, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dibicarakan bukan sekadar sebagai konsep kurikulum, melainkan sebagai cara pandang dalam mendidik. Guru diajak melihat bahwa proses pembelajaran memiliki dimensi kemanusiaan yang tidak kalah penting dengan pencapaian akademik.
Cinta dalam pendidikan diwujudkan melalui sikap menghargai peserta didik, membangun komunikasi yang positif, memberikan ruang bagi perbedaan, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Nilai-nilai tersebut kemudian berjalan beriringan dengan semangat moderasi agar madrasah menjadi ruang tumbuh bagi peserta didik untuk belajar hidup bersama dalam keberagaman.
Forum berlangsung interaktif. Para guru tidak hanya menerima materi, tetapi juga berbagi pengalaman dan mendiskusikan berbagai tantangan yang mereka temui dalam kehidupan madrasah. Dari percakapan tersebut, muncul satu pesan penting: pendidikan yang baik tidak hanya berbicara tentang apa yang diajarkan, tetapi juga tentang bagaimana peserta didik diperlakukan selama proses belajar.
Bagi FTIK UIN Ponorogo, penguatan kompetensi guru merupakan bagian dari upaya menghadirkan dampak pendidikan yang lebih luas. Perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memiliki ruang untuk memastikan pengetahuan tersebut dapat memberi manfaat bagi masyarakat.
Melalui NGOPI, FTIK membangun ruang perjumpaan antara dunia akademik dan para praktisi pendidikan. Guru tidak ditempatkan hanya sebagai penerima gagasan, tetapi sebagai mitra yang membawa pengalaman nyata dari ruang kelas untuk didiskusikan, dikembangkan, dan dibagikan.
Langkah ini menjadi bagian dari ikhtiar FTIK UIN Ponorogo untuk memperluas kontribusi pendidikan Islam. Dari kampus, gagasan bergerak menuju madrasah. Dari madrasah, praktik baik diharapkan tumbuh di ruang-ruang kelas. Dan dari ruang kelas, dampaknya diharapkan dirasakan oleh peserta didik, keluarga, serta masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan tagline “FTIK FANTASTIK, FTIK LEBIH BAIK”—sebuah spirit untuk terus bergerak meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat kapasitas pendidik, dan membangun kolaborasi yang memberi manfaat lebih luas bagi pendidikan Indonesia.
Sebab, perubahan pendidikan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari seorang guru yang memilih untuk memahami sebelum menghakimi, mendengarkan sebelum menilai, dan mendidik dengan cinta.
Ketika guru bertumbuh, madrasah ikut bertumbuh. Ketika madrasah bertumbuh, pendidikan Indonesia pun memiliki ruang untuk menjadi lebih baik.




